Official Site: Home | Trailers | Gallery | Reviews



Road to Dead Time

Banyak yang bilang, film kedua adalah yang tersulit untuk dibuat. Mau tidak mau saya mesti setuju. Sebelum saya memutuskan untuk membuat Dead Time, saya sempat mempersiapkan Superdoni (Mighty Like Water), lalu Eksekutor.

Superdoni adalah coming-of-age drama/fantasy bercerita tentang petualangan seorang anak laki-laki berusia 10 tahun bersama seorang temannya saat mencari seorang penyanyi seriosa untuk menyembuhkan ibunya yang sakit keras. Eksekutor bercerita tentang lima orang anak muda yang membunuhi para politikus. Ini adalah film musikal, by the way, di mana darah dan dance numbers yang colorful silih berganti memenuhi layar.

Superdoni terjebak di development hell (istilah untuk film yang mandeg di masa sebelum pre-production) sedangkan Eksekutor saya sengaja saya tunda karena bakal membutuhkan resources yang besar.

Saya memang punya beberapa skrip yang setengah jadi, tapi memutuskan mana yang akan saya filmkan sebagai film kedua ternyata sangat sulit.

Saya beruntung karena Janji Joni terpilih sebagai official selection di banyak film festival, tapi menghadiri festival-festival ini ternyata membuat saya bingung. Setiap festival menayangkan ratusan film yang sangat menarik dari berbagai negara. Setiap kali menonton film-film ini, kepala saya selalu muter. Contohnya saat menonton film luar biasa dari Israel, The Syrian Bride di Durban, Afrika Selatan. Film ini bercerita tentang seorang perempuan yang tinggal di Dataran Tinggi Golan, Syria, yang akan menikah dengan seorang laki-laki di tinggal di Dataran Tinggi Golan, tapi yang dikuasai Israel. Kalau dia menikah dengan laki-laki itu, dia bakal nggak bisa lagi kembali ke rumahnya.

Saya langsung berpikir, akan menarik sekali jika saya bisa buat film seperti itu yang topikal di Indonesia. Mungkin tentang tragedi Lapindo di Sidoarjo. Di waktu lain saat menonton film Bagdad Cafe, saya jadi kepingin bikin film dengan tema seperti itu. Begitu banyak keinginan, tapi waktu sangat sempit.

Ingin rasanya bikin film yang kembali bisa diterima di festival-festival. Terlebih, banyak penonton luar yang sudah melihat Janji Joni bilang bahwa mereka menunggu film saya selanjutnya. Semua ini bikin self-doubt meninggi. Bagaimana kalau film kedua saya mengecewakan? Bagaimana ...

Akhirnya saya sadar bahwa saya mulai melenceng dari janji saya dulu ketika belum bikin film: kalau saya bikin film, saya ingin menceritakan cerita saya dengan tulus. Bukan karena ingin masuk festival, bukan karena hal-hal lain. I should just tell a story. Akhirnya saya memutuskan untuk memfilmkan Dead Time yang memang sudah lama ada di kepala saya. I'll just do my best. Hasilnya terserah penonton saja. Kalau saya gagal, paling saya akan mendengarkan lagu Badly Drawn Boy yang berjudul You Were Right berulang-ulang. Kalau saya berhasil, paling saya akan mendengarkan lagu I Was Wrong berulang-ulang.

Posted by Joko Anwar 12:44 AM  

1 Comment:

  1. Ardita Çaesari said...
    Superdoni animasi?

    Mahal ya? It would be interesting, though..

Post a Comment