Official Site: Home | Trailers | Gallery | Reviews



IT'S A WRAP!






Shooting my second movie has been the most compelling experience in my life. Looking back, it seems impossible to shoot on those difficult locations only in 32 days. We had four cities, 27 locations, and 70 sets. We had to block crazy traffic in Semarang and Jakarta, race against sunset and sunrise, shooting approximately 18 hours a day. Semarang, Central Java, can reach up to 42 degree Celcius (108 F) during the day, everybody looked so tanned. One military officer went into one-week detention in jail because his superior officer didn't get his message that we were gonna use their military housing and we had to do guerilla filmmaking because we didn't get the permit of some of the locations. But the crew and the cast's morale was incredible high and everybody seemed to have the time of their life. When we looked at the rushes, we made a huge smile on our face. We were making a kick-ass movie that will blow people away.

Here's some of the photos of the making of "Dead Time".

P.S. Our official website is coming very soon. :))

Posted by Joko Anwar 9:24 PM 10 comments  



Behind-The-Scene Photos

Behind-The-Scene Photos

See our behind-the-scenes photos at flickr! Uploaded directly from our sets, and captured with Nokia N73 (Nokia is not sponsoring this. Yet :))

Posted by Joko Anwar 4:24 AM 4 comments  



Love Theme of Kala




No Moon

Music and Lyrics by Haris Khaseli (Zeke)

It began in Manderlay
The buzzing cars so far away
When the moon was nearly empty
He fished her body out of lake
So he pinched her nose to shut
And he breathe into her mouth
"Where am I and why am I here?"
"You've been walk in sleep my dear"

Wandering around Chinatown
"I'll make you mine."
He said, "It's me that you want inside."
Her precious eyes are staring at him
Can't she see that it is he that she wants inside
What possessed her to behave that way?

Once again in Manderlay
She drove fast on the highway
Then the trail led to a clock tower
In there he chased her to the stairs
The first attack of vertigo
He framed his brain on the window
And when he saw her body falling
If only (he wished) he had (the) angel's wings

The Chinese said that "Once you saved a life,
you are responsible forever"
And now the (for him) the moon was nearly empty
And filthy like a blind alley
No mercy in Manderlay

Posted by Joko Anwar 10:01 PM 3 comments  



Half-Way There

The shooting is half-way done. The cast and the crew seem to be having so much fun even though sometimes we have to shoot from 6 a.m. to 1 a.m. the next day. I will post a big update on our shooting soon. In the meantime, enjoy these still photos from the movie. :))





Top + Middle: Fachri Albar as Janus.
Bottom: Ario Bayu as Eros.

Posted by Joko Anwar 11:05 AM 7 comments  



What's The Story

Janus sedang mengalami hari terburuk dalam hidupnya. Atasannya memecatnya sebagai jurnalis dan istrinya menceraikannya untuk alasan yang sama: narkolepsi, sebuah gangguan otak yang membuat Janus jatuh tertidur jika mengalami keadaan emosional yang tiba-tiba termasuk cemas, sakit, dan terkejut. Tapi hari itu Janus akan memulai petualangan terbesar dalam hidupnya, saat subjek beritanya yang terakhir menyeretnya masuk ke dalam sebuah labirin konspirasi tingkat tinggi penuh misteri dan bahaya. Janus segera menyadari bahwa yang selama ini dia anggap sebagai gangguan otak semata, mungkin merupakan sinyal dari sesuatu yang sangat besar di luar daya nalar manusia, yang membuatnya dikejar-kejar beberapa tokoh yang sangat powerful dan berbahaya.

Posted by Joko Anwar 9:25 AM 16 comments  



Janus, Sari, dan Bandi


































Adalah seorang jurnalis bernama Janus yang mencintai seorang perempuan bernama Sari. Bahagia keduanya, saat mereka menikah di hari terdamai di negeri itu. Tapi bersamaan dengan datangnya rentetan bencana, meluntur juga cinta Sari. Dua tahun setelah bersama, Sari memutuskan untuk meninggalkan Janus dan kenangan cinta mereka.
------
Catatan di atas adalah background story dari karakter-karakter dalam film Dead Time.
Keterangan foto. Atas: Janus dan Sari
Bawah dari kiri ke kanan: Janus, Sari, Bandi (Fachri Albar, Shanty, Tipi Jabrik)
(Foto-foto oleh Erik Juragan)

Posted by Joko Anwar 10:58 PM 6 comments  



Camera Test




Hari Sabtu kemarin kami melakukan tes kamera di daerah Kota. Kamera yang dipakai untuk syuting Dead Time adalah kamera 35mm ARRICAM Studio. Sayangnya ARRICAM Lite tidak tersedia. Yang kasian memang steady cam operator karena pasti berat banget. :)

Tes kamera biasanya dilakukan sebelum suting untuk evaluasi lighting style, dan kaitannya dengan make-up dan costume, supaya hasil syuting nanti sesuai dengan konsep awal. Dead Time menggunakan konsep tata cahaya low-key, di mana aspect ratio dari key light dan fill light biasanya lebih tinggi dari 8:1. Penjelasan lebih lanjut buat istilah-istilah ini bisa di baca di sini.

Gambar-gambar di atas adalah still photo (oleh Erik Juragan) dari hasil tes kamera kemaren.

Posted by Joko Anwar 9:21 PM 8 comments  



Cast


Finally, Here's the line up for Dead Time:

Janus (Jurnalis) : Fachri Albar
Eros (Polisi) : Ario Bayu
Sari (Istri Janus) : Shanty
Ranti (Penyanyi Night Club) : Fahrani
Soebandi (Jurnalis) : Tipi Jabrik
Haryo Wibowo (Menteri) : Arswendi Nasution
Bambang Sutrisno (Polisi) : Frans Tumbuan
Ronggoweni : Sujiwo Tejo
Pindoro : Jose Rizal Manua
Didukung oleh : Donny Alamsyah, Rima Melati, and more.

Posted by Joko Anwar 10:08 PM 19 comments  



Fear of Censorship

Tadinya judul posting ini adalah "Fear of Ridiculous Censorship" terus saya ganti jadi "Fear of Ugly Censorship". Tapi saya kemudian sadar kalau censorship tidak membutuhkan embel-embel. Karena censorship sudah dari sananya "ridiculous" dan "ugly".

Film Pocong buatan Rudy Soedjarwo baru saja diputuskan oleh Lembaga Sensor Film tidak layak untuk untuk diedarkan karena "mengandung banyak adegan kekerasan" dan "mengandung unsur politis". Ada elemen di film Pocong yang melibatkan peristiwa kerusuhan Mei 1998 jadi menurut LSF film ini "politis". Ha? Bagaimana sih cara berpikir orang-orang tua di LSF itu? Terus kalau pun filmnya mengandung unsur politis emang kenapa? Bagaimana kita diharapkan bisa berkarya secara lebih kreatif kalau banyak rambu-rambu nggak penting yang harus kita perhatikan?

Posted by Joko Anwar 12:00 AM 3 comments  



Fear of the Unknowns

39 hari lagi suting. Seluruh kru bersemangat, tapi juga deg-degan. Apalagi saya. Di Dead Time saya akan menemukan banyak sekali hal baru. Visual effects, misalnya. Kami juga baru memutuskan untuk melakukan proses DI (Digital Intermediate) untuk pasca produksi. Waktu mengerjakan Janji Joni, semuanya low-tech sehingga tidak perlu persiapan ekstra seperti sekarang. Saya, Ipung (DOP), dan Iwen (Art Director) langsung buka-buka buku dan mencari informasi lewat internet. Biarpun deg-degan, kita semua percaya kalau kita mesti push our limit. Apa asiknya kalau kita nggak berani mencoba hal-hal baru? Iya kan?

Posted by Joko Anwar 2:54 AM 2 comments  



More photos






Photos from second location hunting... Yang di atas adalah astrada I Pinung dan astrada II Tommy. Bawah: DP Ipung in the death tunnel.

Posted by Joko Anwar 3:02 AM 0 comments  



Mencari Eros


Tim Casting sedang sibuk mencari pemeran Eros dalam film Dead Time, yang merupakan satu dari empat tokoh utama film ini. Tiga aktor lagi sudah dengan antusias menyatakan ikut produksi ini (segera akan dikabarkan). Tapi khusus untuk pemeran Eros memang dari awal sudah saya bayangkan bakal susah untuk ditemukan. Karakter Eros adalah seorang polisi berumur 30 tahun yang di skrip dengan "corny" digambarkan sebagai laki-laki yang "wajah kerasnya menutupi ketampanannya". Eros juga "jaded" dengan situasi negara yang digambarkan dalam skrip Dead Time (mungkin Indonesia, mungkin bukan), tapi pandangannya ini bertabrakan dengan optimisme akan munculnya seorang tokoh yang akan membawa negeri itu keluar dari kegelapan.

Di mana kau, Eros?

(Foto: Tim Casting Dead Time. Dari kiri-kanan: Andika, Delima, Angga. Minus casting director Arwyn).

Posted by Joko Anwar 5:35 AM 0 comments  



Storyboarding


Indra udah mulai ngebuat storyboard. Sumpah. Anak ini adalah tukang gambar yang paling cepat yang pernah gue kenal. Karena dia juga pernah jadi asisten sutradara, jadi dia gape masalah angle, ukuran object, dan gerakan kamera. Jadi ngasih tau apa yang kita mau juga gampang. Kita udah sepakat sehari ngerjain 10 scene. Dead Time yang total skripnya ada 124 scene bakal bisa diselesaikan dalam waktu 11 hari.

Gue lebih suka kalau storyboard dibuat se-detil mungkin. Jadi pas syuting kru-kru bakal punya shooting guide yang lebih komplit.

Perlu atau nggaknya storyboard memang tergantung kebutuhan sutradara. Banyak sutradara, termasuk Woody Allen, yang nggak perlu storyboard. Ada sutradara yang cuma butuh floor plan, atau skema set dan letak kamera yang dilihat dari atas.

Gambar storyboard memang nggak perlu sehalus gambar novel grafis. Kalau ada yang punya DVD film True Romance yang asli, bisa dilihat bahwa storyboard-nya cuma dibuat dengan gambar-gambar kasar. Yang penting memuat informasi angle, object size, dan gerakan kamera.

Posted by Joko Anwar 4:58 AM 1 comments  



Hunting Lokasi #1



Minggu lalu kami hunting lokasi di Semarang selama tiga hari dan berhasil menemukan lokasi-lokasi yang look-nya cocok untuk konsep cerita Dead Time. Kami memilih untuk tidak menggunakan bangunan-bangunan yang jadi landmark kota Semarang karena memang ceritanya tidak di-set di "Indonesia yang kita kenal". We all had so much fun. Terutama ketika, karena penasaran, masuk ke dalam penjara bawah tanah di Lawang Sewu. Senter yang baru dibeli dan dipegang oleh Location Manager kami, Benny, tiba-tiba mati dan Benny tiba-tiba ditampar sesuatu di lorong yang 100% gelap dan lembab. Kita semua memutuskan untuk keluar.

Beberapa scene di skrip harus disesuaikan set-nya sesuai hasil hunting minggu lalu, tapi lokasinya malah jadi lebih menarik.

Menemukan lokasi-lokasi bagus selalu menambah semangat untuk suting. Kan kami sekarang nggak sabar untuk mulai.

Posted by Joko Anwar 3:31 AM 4 comments  



Assembling the Crew


Senang sekali bisa mulai persiapan bikin film lagi setelah setahun vakum. Sebenarnya bukan menghilang. Sejak Janji Joni dirilis, saya sibuk menulis skenario film Jakarta Undercover yang sudah disutradarai Lance (Rilis Desember 2006) dan Quickie Express untuk Dimas Djayadiningrat (in production Januari 2007) sambil keliling festival bersama Janji Joni. Mengikuti festival-festival film (Janji Joni sejauh ini sudah diputar di 22 festival film termasuk di Pusan, Tokyo, New York, dan Seattle) sebenarnya sedikit membuat saya krisis PD karena film-film dari negara lain sangat bagus-bagus. Setiap kali menonton Janji Joni di sana, rasanya kepingin tenggelam di tempat duduk karena malu sendiri. Akhirnya beberapa tawaran untuk menyutradarai film lagi saya tunda supaya bisa belajar lagi dari buku-buku dan para filmmaker yang lebih senior.

Dan akhirnya, Dead Time.

Di film kedua saya ini, saya masih akan bekerja dengan long-time collaborator saya, director of photography Ipung Rachmat Syaiful (Janji Joni, Mengejar Matahari, Berbagi Suami). Kami berdua sangat excited mengingat kami akan mengerjakan film dengan genre yang belum pernah kami lakukan sebelumnya dan secara visual kami pasti akan lebih bebas mengembangkan ide mengingat film Dead Time tidak mengambil setting di Indonesia yang kita kenal. Departemen art dipegang oleh Wencislaus (Iwen), art director muda yang sangat berbakat. Feature film pertama yang dikepalainya adalah Berbagi Suami dan dia langsung menang di Forum Film Bandung beberapa bulan yang lalu. First Assistant Director dipegang oleh Rivien (Pinung) yang sudah dikenal sebagai salah satu asisten sutradara terbaik di Indonesia, dibantu oleh Tommy sebagai 2nd Assistant Director yang juga sudah mengerjakan banyak film-film bagus termasuk Berbagi Suami. Line Producer yang akan bertanggung jawab akan jalannya produksi dipegang oleh Tia Hasibuan (Arisan! The Series, Belahan Jiwa) dan sparing partner saya setiap karaoke di Happy Puppy Fatmawati. :) Storyboard dikerjakan oleh Indra Lubis yang juga membuat storyboard untuk Janji Joni.

Memilih kru yang cocok sangat penting karena akan menentukan mood dan atmosfer selama syuting. Buat saya, syuting harus menyenangkan. Karena kalau tidak menyenangkan, saya lebih memilih untuk tidak bikin film.

Setelah rebutan kru dan berkompromi dengan Ochay (Ody C. Harahap) yang juga kan syuting dalam waktu yang bersamaan, gambar di atas adalah line-up dari kru Dead Time.

Kita udah punya schedule syuting: start 5 November 2006.


Dead Time Crew Line-up:

Writer/Director: Joko Anwar
Line Producer: Tia Hasibuan
First Assistant Director: Rieviena Yulieta (Pinung)
Second Assistant Director: Tommy Waskito
Director of Photography: Ipung Rahmat Syaiful (Janji Joni, Mengejar Matahari, Berbagi Suami)
Chief Lighting: Buadi
Art Director: Wencislaus (Berbagi Suami, Arisan! The Series)
Music Directors: Aghi Narottama (Berbagi Suami), Zeke Khaselli
Costume Designers: Tania Soeprapto, Isabelle Patrice (Arisan! The Series)
Make-Up Artist: Didin
Unit Production Manager: Sandy Sofyan
Editor: Wawan I. Wibowo (Realita Cinta dan Rock 'n Roll, Koper, Bangsal 13)
Storyboard Artisit: Indra Loebis
Casting Director: Arwin Wardhana, Sanjay Mulani
Still Photographer: Erik Juragan (Jakarta Undercover)
Project Manager: Danny Saputra
Producers: Manoj Punjabi, Dhamoo Punjabi
Co-Producer: Karan Mahtani
Post-Production Producer: Dotty

Posted by Joko Anwar 3:16 AM 0 comments  



Road to Dead Time

Banyak yang bilang, film kedua adalah yang tersulit untuk dibuat. Mau tidak mau saya mesti setuju. Sebelum saya memutuskan untuk membuat Dead Time, saya sempat mempersiapkan Superdoni (Mighty Like Water), lalu Eksekutor.

Superdoni adalah coming-of-age drama/fantasy bercerita tentang petualangan seorang anak laki-laki berusia 10 tahun bersama seorang temannya saat mencari seorang penyanyi seriosa untuk menyembuhkan ibunya yang sakit keras. Eksekutor bercerita tentang lima orang anak muda yang membunuhi para politikus. Ini adalah film musikal, by the way, di mana darah dan dance numbers yang colorful silih berganti memenuhi layar.

Superdoni terjebak di development hell (istilah untuk film yang mandeg di masa sebelum pre-production) sedangkan Eksekutor saya sengaja saya tunda karena bakal membutuhkan resources yang besar.

Saya memang punya beberapa skrip yang setengah jadi, tapi memutuskan mana yang akan saya filmkan sebagai film kedua ternyata sangat sulit.

Saya beruntung karena Janji Joni terpilih sebagai official selection di banyak film festival, tapi menghadiri festival-festival ini ternyata membuat saya bingung. Setiap festival menayangkan ratusan film yang sangat menarik dari berbagai negara. Setiap kali menonton film-film ini, kepala saya selalu muter. Contohnya saat menonton film luar biasa dari Israel, The Syrian Bride di Durban, Afrika Selatan. Film ini bercerita tentang seorang perempuan yang tinggal di Dataran Tinggi Golan, Syria, yang akan menikah dengan seorang laki-laki di tinggal di Dataran Tinggi Golan, tapi yang dikuasai Israel. Kalau dia menikah dengan laki-laki itu, dia bakal nggak bisa lagi kembali ke rumahnya.

Saya langsung berpikir, akan menarik sekali jika saya bisa buat film seperti itu yang topikal di Indonesia. Mungkin tentang tragedi Lapindo di Sidoarjo. Di waktu lain saat menonton film Bagdad Cafe, saya jadi kepingin bikin film dengan tema seperti itu. Begitu banyak keinginan, tapi waktu sangat sempit.

Ingin rasanya bikin film yang kembali bisa diterima di festival-festival. Terlebih, banyak penonton luar yang sudah melihat Janji Joni bilang bahwa mereka menunggu film saya selanjutnya. Semua ini bikin self-doubt meninggi. Bagaimana kalau film kedua saya mengecewakan? Bagaimana ...

Akhirnya saya sadar bahwa saya mulai melenceng dari janji saya dulu ketika belum bikin film: kalau saya bikin film, saya ingin menceritakan cerita saya dengan tulus. Bukan karena ingin masuk festival, bukan karena hal-hal lain. I should just tell a story. Akhirnya saya memutuskan untuk memfilmkan Dead Time yang memang sudah lama ada di kepala saya. I'll just do my best. Hasilnya terserah penonton saja. Kalau saya gagal, paling saya akan mendengarkan lagu Badly Drawn Boy yang berjudul You Were Right berulang-ulang. Kalau saya berhasil, paling saya akan mendengarkan lagu I Was Wrong berulang-ulang.

Posted by Joko Anwar 12:44 AM 1 comments  



Westernized? Easternized? Whatevah.

"another movie of yours to be misunderstood..." --- Hera

Sahabat terdekat saya ini benar sekali. Sehari setelah blog ini muncul, saya menerima beberapa SMS yang memberitahu saya kesan pertama mereka tentang Dead Time. Secara seragam mereka bertanya kenapa judulnya mesti dalam bahasa Inggris, kenapa posternya memberi kesan bahwa film ini akan kebarat-baratan (mengingat ada manhole di jalan dan orang memakai long coat). Sebenarnya gambar background di blog ini bukan poster Dead Time. Sekedar image untuk menggambarkan feel film ini. Tapi saya yakin, nanti saat film ini dirilis, akan banyak komentar yang mengatakan bahwa film ini kebarat-baratan.

Terus terang, saya agak geli setiap kali ada orang Indonesia yang memprotes sebuah film Indonesia karena "kebarat-baratan". Jawaban saya selalu "why not?". Saya pernah meng-google komentar dan review atas beberapa film Hollywood termasuk Kill Bill dan Matrix. Tidak ada satupun yang memprotes film-film ini sebagai film yang "ketimur-timuran" padahal jelas sekali mereka mengambil banyak elemen dari film-film laga Asia. Saya nggak bisa memberikan jawaban yang scientific untuk fenomena ini. Mungkin bangsa kita terlalu nasionalis (atau regionalis? Belahan-bumi-is?). Mungkin propaganda para penguasa jaman dulu untuk mencurigai setiap budaya luar sudah terlalu jauh masuk ke dalam kepala kita. Saya sendiri lebih percaya pada John Lennon dan mengamini bangsa-bangsa timur me-westernized dan bangsa-bangsa barat meng-easternized sampai akhirnya kita ketemu di tengah-tengah. Imagine that.

Saya sering bingung kalau orang menuntut film buatan filmmaker Indonesia harus mencerminkan budaya Indonesia, seperti yang digembar-gemborkan para juri Festival Film Indonesia 2005. Ini karena saya sudah tidak tahu lagi yang mana yang bisa disebut budaya asli Indonesia. Mungkin saya harus membuat film tentang korupsi, dan kecenderungan untuk memaksakan kehendak dengan kekerasan (premanisme). Kalau ini adalah budaya orang Indonesia, berarti Dead Time adalah film yang Indonesia banget.

Tapi yang paling penting, bagaimana dengan kebebasan berekspresi dalam seni kalau banyak rambu-rambu yang tidak masuk di akal yang harus kita patuhi? Rasanya pada saat menyetir di jalan tol, tiba-tiba ada rambu yang bunyinya "Sewaktu menyetir dilarang bersiul".

Kalau saya bilang, filmmaker atau seniman apapun harus bebas berekspresi menurut pemikirannya, yang dibentuk dari hal-hal yang paling banyak mempengaruhi hidupnya. Yang paling penting adalah storytelling. A good movie is a good movie (sebaliknya, a bad movie is a bad movie) terlepas dari apapun style-nya.

------------
Film-film menarik untuk diintip:
1. Tears of the Black Tiger (Film Koboi Western produksi Thailand)
2. Seven Samurai (Film Samurai gaya Western karya Akira Kurosawa yang nantinya di-remake oleh Amerika. Isn't ironic, Alanis?).

Posted by Joko Anwar 11:17 PM 10 comments  



Dead Time Story

Skenario film Dead Time draft pertama akhirnya selesai setelah bertahun-tahun filmnya looping terus dalam kepala saya sampai hampir bosen nontonnya.

Ide cerita Dead Time mulai terpikirkan waktu saya masih jadi wartawan di The Jakarta Post. Saya baru dua minggu kerja di sana dan ditugaskan untuk meliput sebuah berita yang tidak mungkin ditugaskan ke wartawan-wartawan senior karena materinya mungkin dianggap sangat trivial dan cuma isapan jempol. Seorang perempuan dari Philiphina datang ke Jakarta untuk bertemu presiden, dengan membawa setumpuk dokumen yang dia klaim sebagai bukti adanya sejumlah account di bank Swiss yang bisa dicairkan oleh pemerintah Indonesia, yang nilainya mencapai ratusan milyar dolar Amerika. Perempuan yang datang ke Jakarta dengan ditemani oleh seorang laki-laki dari Brunei itu berharap bisa dapat persenan jika dana itu cair. Saya mewawancarai perempuan kurus dan bermata sayu itu di kamar hotelnya. Sepanjang interview, saya malah membayangkan sebuah film. Saat itu saya sadar saya tidak cocok untuk jadi wartawan.

Sejak saat itu, cerita berkembang dan seolah-olah punya kehidupan sendiri. Dalam film Janji Joni, judul Dead Time bisa dilihat di berbagai poster yang ada di bioskop dan dalam adegan gala premiere di awal film. Kalau anda sudah nonton Janji Joni dan ingat dialog Nicholas Saputra dan Rachel Maryam dalam tempat sampah tentang insiden di sebuah terminal bus, itu adalah pembukaan film Dead Time.

Sayang, saya belum bisa memberitahu sinopsis atau plotnya. Tapi gambar background blog ini (bukan poster) bisa menggambarkan feel filmnya bakal seperti apa. Yang pasti, akan sangat berbeda dari Janji Joni.

Posted by Joko Anwar 12:31 PM 15 comments